Kabar Terkini – Elektabilitas kandidat petahana Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) alami penurunan menurut survei paling akhir. PPP yang telah meyakinkan tidak bakal mengusung Ahok itu mengakui makin semangat.
“Bila elektabilitas petahana alami penurunan jadi koalisi partai-partai yang tidak mengusung, termasuk juga PPP lebih semangat,” ungkap Sekjen PPP Arsul Sani di Gedung DPR, Kompleks Senayan, Jakarta (14/9/2016).
Satu diantaranya survei paling baru Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) yang dirilis Rabu (14/9), elektabilitas Ahok sekarang ini terdaftar 41,6 persen. Tidak banyak terpaut jauh, elektabilitas Tri Rismaharini naik jadi 30 persen.
Lalu yang alami penambahan yaitu Rizal Ramli jadi 8 persen menggungguli kandidat cagub Gerindra, Sandiaga Uno di angka 7 persen.
Sejak mulai Gerindra diberitakan memasangkan Sandiaga dengan politisi PKS Mardani, PPP mulai ambil langkah mundur. PPP juga berpindah pada poros alternatif bersama PKB, PAN, serta Partai Demokrat.
“Walau Sandiaga-Mardani belum fix, empat partai lain yang secara resmi belum deklarasi calonnya ini dalam pembicaraan intensif. Demokrat, PPP yang kursinya sama-sama 10, PKB serta PAN,” terang Arsul.
“Tak tertutup peluang bila Sandi-Mardani itu menjadi fix jadi bakal ada calon ketiga yang bakal diusung oleh 3 atau 4 partai,” tambah dia.
Dari poros alternatif muncul nama Yusril Ihza Mahendra yang telah sejak jauh hari masuk di bursa cagub DKI. Ke empat partai itu cuma tinggal mengulas nama cawagub-nya.
“Kan kemarin PAN usul Pak RR, kita hormatilah. Tengah kita ulas dalam hari-hari ini. Cuma bila PPP serta saya juga meyakini ini semangatnya Demokrat juga, untuk cawagub itu kita condong pilih orang yang mempunyai rekam jejak birokrasi terutama di DKI,” terang anggota Komisi III DPR itu.
Di banding Sekda DKI Saefullah, PPP lebih pilih Deputi Gubernur Sylviana Murni. Sebab menurut Arsul, Sylviana dianggap lebih mempunyai pengalaman birokrasi.
“Lantaran dari sisi obyektivitas track recordnya Bu Sylviana di Birorkrasi lebih panjang dan varian. Pernah jadi Kadisdik, Walikota, Kepala Satpol PP, serta dia perempuan. Jadi mewakili perempuan, itu penting,” papar Arsul.
“Mantan None Jakarta juga, jadi walaupun usia sudah 58 itu masih enak dilihat. Bila PPP lebih mendorong bu Sylviana. Bila Bu Sylviana ini tak terasosiasikan dengan partai manapun. Bila Pak Saefullah masih ada asosiasinya, paling tidak masih ada persepsi orang dengan PKB,” sambung dia.
Disamping itu bila Sandiaga serta Mardani maju, keduanya dianggap masih keduanya sama belum mempunyai pengalaman birokrasi. Karenanya PPP lebih pilih untuk ada di poros alternatif.
“Partai lain melihat Pak Sandi itu walaupun ada di Gerindra dia politisi profesional. Bukanlah politisi MuRni seperti Pak Mardani yang memang kader PKS. Kan Birokrasi di DKI banyak dan besar. Serta bakal mengelola APBD yang leboh dari Rp 70 T,” tutur Arsul.
“Bila dua-duanya Gubernur dan wagub tidak miliki pengalaman. Berarti untuk PPP kita tak memprioritaskan ego kepartaian. Sebab bila iya, yang saya omongin Pak Yusuf Mansyur selalu,” tandasnya sembari berkelar.
